Oleh: Iverdixon Tinungki
Dr. Elly Engelbert Lasut, M.E. adalah sebuah fenomena. Ia sedikit dari politisi di Sulawesi Utara (Sulut) yang mampu menjalankan prinsip politik sebagaimana gagasan Aristoteles. Apakah saya sahabat Elly Lasut? Saya tak berani mengklaim.
Di awal tahun 2000-an, saya dan beberapa aktifis dari Talaud sering nongkrong di rumah Elly Lasut di bilangan Wanea, tepatnya di samping Stadion Klabat Manado. Di rumah semipermanen miliknya itu, Elly -sapaan akrabnya- selalu menyuguhkan minuman ringan beralkohol yang diraciknya sendiri dari bahan-bahan alami dan produk modern yang ada. Racikan minuman ala Elly terasa enak dan menghangatkan tubuh.
Kami kemudian menghabiskan banyak malam hingga subuh di sana, dengan berbagai diskusi sehubungan dengan perjuangan pemekaran Kabupaten Talaud dari Kabupaten Induk Sangihe Talaud. Pada 2 Juli 2002, Kabupaten Kepulauan Talaud pun dimekarkan.
Setahun kemudian (2003) Elly menjadi Ketua DPRD Kepulauan Talaud. Kami menjadi jarang bertemu, kecuali pada forum-forum resmi, seperti diskusi, seminar, atau press conference.
Kendati begitu, Elly tetap familiar, selalu menjaga ruang-ruang persahabatan, bertegur sapa sebagaimana biasanya. –Sifat ini jarang terjadi bahkan dilupakan para politisi yang lebih memilih mengurung diri dalam sikap elitis feodalistik.
Pada tahun 2004, Elly terpilih sebagai Bupati definitif pertama Kabupaten Kepulauan Talaud hingga 2009. Setelah mengakhiri periode kepemimpinanya yang pertama, Elly kembali terpilih sebagai Bupati Talaud untuk periode kedua pada 2009 yang kemudian hanya dijalaninya hingga tahun 2012 karena mencalonkan diri pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulut.
Namun mengejutkan, di tahun 2011, ketika ayah saya meninggal, Elly menelpon saya dari Talaud menyatakan niatnya datang melayat. Di hari pemakaman, Elly mencarter pesawat dari Talaud menuju Manado sekadar melayat ayah saya.
Ia datang bersama istrinya Telly, dan anaknya, Hillary. Dia pun menyerahkan diakonia untuk seluruh biaya sehubungan dengan pemakaman itu. Begitu pun saat ponakan saya menikah di tahun 2012, Elly menyempatkan diri membawakan sambutan atas nama keluarga kami.
Apakah saya sahabat Elly Lasut? Saya tak berani mengklaim. Tapi bagi saya Elly adalah sejatinya zoon politicon. Makhluk sosial sekaligus manusia politik sebagaimana yang dikemukakan filsuf Aristoteles yaitu manusia yang dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Sebuah sifat hidup yang membedakan manusia dengan hewan.
Sebagai seorang Aristotelianisme, Elly menekankan langkah politiknya pada hubungan sosial dalam masyarakat atau Negara, sehingga masyarakat mengenal budi, dan menjalankan fungsinya baik secara individu maupun sosial.
Merujuk pada manusia sebagai makhluk social, Elly membina hubungan relasional antar manusia atau melakukan interaksi sosial yang selanjutnya akan mengilhami interaksi kekuasaan yang terlembagakan dalam suatu organisasi yang disebut Negara, sekaligus meminimalisir terjadinya peluang konflik.
Elly barangkali sangat sadar dimana dalam politik kita mengenal apa yang disebut The Controversy over Dirty Hands in Politics, “Politik adalah tangan yang kotor jika bekerja tanpa etika”, atau yang popular disebut sebagai political gimmick. Sehingga upaya meminimalisir terjadinya peluang konflik harus terus dijaga.
Kiprahnya sebagai seorang Aristotelianisme juga terlihat pada sejumlah programnya menyangkut beasiswa yang menyebar dalam ruang lingkup yang luas –terutama di provinsi Sulut–, juga jaringan organisasi social kemasyarakatan, dan usaha. Dengan semua sayap-sayap hubungan social ini, Elly tak saja bertengger sebagai politisi paling populis di Sulut, tapi juga sebagai politisi yang punya jaringan massa pendukung yang besar.
Dan ini sebabnya, kendati kalah dalam Pilgub 2010, karena terkait kasus pidana ketika itu, dan terganjal maju dalam tarung Pilgub 2015, namun Elly dengan enteng saja memenangkan Pemilihan Bupati Talaud untuk ketiga kalinya pada 2018, dan akan dilantik sebagai Bupati Talaud pada Juli 2019.
Sebagaimana manusia politik, Elly boleh dikata memahami betul apa yang dimaksud dengan kebenaran dalam politik. Dalam pandangan realisme politik, ukuran bagi kebenaran politik adalah keunggulan.
Politik tidak memilah antara yang benar dengan yang salah. Antara yang baik dengan yang buruk. Antara yang indah dengan yang jelek. Politik hanya memilih yang unggul.
Sebagai manusia politik sejati, Elly sejak awal melangkah ke panggung politik dinaungi kesadaran akan kebenaran realisme politik itu. Ia memiliki idealisme yang kemudian dipertarungkan dalam ruang politik.
Ia tidak menginginkan popularitas instan, namun lebih menekankan kiprahnya pada kekuatan hubungan social, yang juga bisa diartikan sebagai jalan yang tidak berdampak langsung pada brand name parpol yang menaunginya.
Ini juga yang menjadi alasan klaim banyak orang, dimana Elly tidak bergantung pada nama besar partai, karena dari manapun ia mencalonkan diri dalam suksesi, peluang menang selalu terbuka luas. Hal itu tercermin dalam rekam jejaknya di partai politik yang mengalami beberapa kali perpindahan.
Ada dua faktor utama yang dimiliki Elly sehingga mempengaruhi kepercayaan diri parpol mengusung dia. Pertama, popularitasnya yang tinggi dan regenerasi kedekatan dengan masyarakat (public engagement) sebagai dasar popularitas pun kuat. Kedua, rekam kerja positif (reputasi) Elly sangat dirasakan masyarakat.
Hal tersebut di atas juga didukung paradigma shift (pergeseran cara pikir) di mana parpol lebih mementingkan kemenangan dan Elly bagi parpol adalah mesin yang bisa mengkonversi popularitas dan reputasinya menjadi suara.
Di tengah paradox politik semacam inilah, Elly menjadi manusia politik yang fenomenal bahkan di tahun 2024 saat ia harus memilih menyerah kalah dalam Pilgub Sulut, namun langkah politik lain nampak cemerlang di ujung sepatunya.